P. Mathias Wolff adalah imam Yesuit yang memiliki ciri kepribadiannya yang kuat; berani, tabah, tidak mudah menyerah dan siap mengambil resiko dan sebagai orang yang sungguh sadar akan kebutuhan zaman. Hal ini ditunjukkannya dengan mengumpulkan anak-anak gadis yang kurang mendapat perhatian dibandingkan anak laki-laki. Lembaga ini berkeinginan untuk mengadakan pendidikan kristianani bagi golongan kelas atas, kelas menengah dan bawah. Kelompok inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Kongregasi Suster-suster JMJ dan ketika itu tidak diijinkan untuk pendirian sebuah tarekat, maka pemerintah hanya mengakuinya sebagai yayasan yang dikenal dengan ”Pendidikan Kristiani”.
Tujuan utama pendirian Kongregasi JMJ adalah untuk pendidikan kristiani dan pembebasan manusia secara utuh, rohani dan jasmani. Hal ini berarti bahwa pembebasan dari kebodohan, kemiskinan yang membelenggu seorang sehingga ia tidak dapat maju bersama dengan orang lain.
Kongregasi JMJ tetap teguh memperjuangkan pendidikan kristiani sebagai khasanah Kongregasi JMJ yang mampu mengemban warta keselamatan dari zaman ke zaman. Karya pendidikan ini sekaligus merupakan salah satu wujud misi Kongregasi JMJ namun untuk memulai setiap karya baru, selalu mempertimbangkan secara matang tentang cara dan arah yang harus ditempuh agar karya itu mampu membawa manfaat bagi banyak orang yang membutuhkan.
Sebagai komunitas religius, kehadiran Kongregasi JMJ di tengah masyarakat merupakan sumbangan besar bagi Gereja. Kehadiran Kongregasi JMJ di KAJ adalah atas undangan Mgr. Jayaseputra, SJ sebagai Uskup Agung Jakarta tertanggal 5 Januari 1963. Karya awal Kongregasi Jesus Maria Joseph (JMJ) di KAJ dalam bidang pendidikan khususnya di Jl. K. Hasyim Ashari no. 30 (dulunya dikenal Jl.Kemakmuran), Jakarta Pusat. Pengelolaan pendidikan dimulai dari TK, SD dan kemudian dibuka jenjang SMP. Sekolah ini berjalan dengan baik memiliki jumlah siswa yang banyak dan berprestasi. Bagai benih itu tumbuhlah sekolah-sekolah dibawah asuhan para suster JMJ. TK St Ignatius dimulai sejak tahun 1970 dengan Kepala Sekolah Sr Katrin Karundeng (1970-1979) sebelumnya dikelola oleh Strada begitu pula SD Santo Ignatius diterima dari strada pada 1Januari 1972. SMP Loyola dikelola oleh Yayasan Joseph sejak tahun 1972.
Pada tahun 1985 SMA Bintang Kejora Cengkareng dimulai. Diikuti SMP Bintang Kejora Cengkareng pada tahun 1987. Atas permintaan uskup jakarta yayasan membuka sekolah di Ciputat yang dimulai dari TK Bintang Kejora pada 17 Juli 1997. Kemudian dibuka TK dan SD Bintang Kejora Cengkareng pada tahun 1998 juga SD Bintang Kejora Ciputat pada 20 Juli 1998. Pembukaan sekolah di Ciputat untuk menggantikan Sekolah Bintang Kejora di Kemakmuran yang ditutup juga karena kekurangan murid, sementara untuk SMP tetap berjalan untuk menyelesaikan anak-anak yang masih ada. Dan pada waktu itu Ruang kelas yang lain digunakan oleh SMK Paramita (disewa) dan berakhir pada tahun 2003. Setelah selesai dikontrak, maka gedung eks SMP Bintang Kejora Kemakmuran digunakan oleh SMIP (SMK) Rex Mundi sebagai sekolah kejuruan.
Seiring perjalanan waktu karena berkurangnya murid di SMP Loyola maka sekolah tersebut ditutup pada 01 Juli 2011. Pimpinan Kongregasi JMJ di Indonesia mendirikan yayasan dengan nama: Yayasan Joseph, pada tanggal 16 April 1953 dengan akta Notaris No.13, yang berpusat di Manado.
Sr. Annuncia Wagej (Juliana Wagej) sebagai Ketua Yayasan Joseph yang pertama (1953 - 1983) yang bertanggungjawab atas karya kongregasi dan kepemilikian asset. Tahun 1962 Kongregasi JMJ di Indonesia resmi menjadi Provinsi. Zr. Ancilla van Zutphen sebagai provinsial pertama. Peraturan pemerintah Indonesia tidak mengijinkan WNA memiliki asset, maka periode ini Sr. Annucia Wagey tetap menjadi ketua Yayasan Joseph. Adanya ketentuan Soc. JMJ: Provinsial JMJ adalah juga Ketua Yayasan Joseph, maka setelah provinsial berikutnya WNI, maka provinsial yang menjabat periode itu menjadi ketua Yayasan. Sejak berdirinya, Yayasan Joseph membawahi cabang - cabang, unit subordinasi langsung pada yayasan pusat di tempat - tempat lain yang dipandang perlu oleh badan pengurus yayasan pusat yaitu: Cabang Sulselra, Sulutteng, Jawa-Riau dan unit subordiansi Sumbawa, NTT dan Irian Jaya (1953 s.d 1994).
Ketua Yayasan Joseph pertama adalah Sr. Annuncia Wagey (1953 – 1983) Pada masa kepemimpinan Sr Dominica Tupa, sebagai Provinsial JMJ Indonesia, telah mengambil keputusan untuk memisahkan lembaga hidup bakti dan lembaga karya dan resmi dilaksanakan tahun 1997. Selanjutnya Dewan Pimpinan Provinsi JMJ Indonesia menunjuk dan mengangkat Ketua Yayasan Joseph: Sr Cantia Toar JMJ periode 1997 s.d. 2002. Pada tanggal 16 Agustus 2001, dikeluarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 16 tahun 2001 Tentang Yayasan. Berdasarkan hal ini, Dewan Pimpinan Provinsi Indonesia dan para fungsionaris karya mulai berproses untuk membahas bagaimana undang - undang ini diterapkan dalam Yayasan Joseph. Hasil keputusan pertemuan Malino dan rapat Pembina Yayasan 2001 bahwa Yayasan Joseph dimekarkan menjadi: 1.Yayasan Joseph menangani bidang karya pendidikan dan sosial (eksisting). 2.Yayasan Ratna Miriam menangani bidang karya kesehatan dan sosial, dengan akta pendirian nomor 2 tanggal 4 Februari 2002.
Berdasarkan keputusan di atas maka dimulailah pelayanan bidang pendidikan yang menangani sekolah-sekolah mulai dari TK, SD, SMP, SMA dan SMK. Ketua Yayasan Joseph dimulai oleh Sr. Petra Sinaga (2002-2003) Sejak 1994, Yayasan Joseph membawahi perwakilan di setiap wilayah karya yang dipimpin oleh kepala perwakilan: Perwakilan Makassar, Perwakilan Manado dan Perwakilan Jakarta. Setiap perwakilan terdiri dari kepala, sekretaris dan bendahara yang bertindak untuk dan atas nama Pengurus Yayasan Joseph dengan pemimpin pertama adalah Sr. Laeta Suparilah (1 Oktober 1994 – 1 November 1997)
“Sebuah provinsi dipimpin oleh pemimpin provinsi, yang bertanggung jawab secara keseluruhan dan merencanakan kebijakan-kebijakan. Ia memimpin provinsi dengan bantuan dewan provinsi. Ia mengkoordinir berbagai komunitas beserta anggota dan kerasulannya. Ia memiliki wewenang……” (Konst.85).
Rapat Dewan Pimpinan Kongregasi, Dewan Pimpinan Provinsi: Makassar, Manado dan Jakarta bersama ekonom provinsi, Organ Yayasan Joseph Yeemye, para konsultan di Denpasar tanggal 02 s.d 05 Desember 2019 menghasilkan penegasan-penegasan: 1. Membentuk cabang-cabang yayasan. 2. Mempersiapkan pendirian yayasan baru di provinsi masing-masing (per 1 Januari 2020). Setelah berproses maka diputuskan pendirian 2 cabang yayasan: Cabang Jakarta dan Manado. Pada tanggal 05 Januari 2021, pendirian cabang disahkan oleh Pemimpin Kongregasi SJMJ, Sr Theresia Supriyati, SJMJ.
Adapun yang menjadi Kepala Cabang Jakarta adalah Sr Maria Marie Poli. Pengesahan ini dilaksanakan di Guest House Rajawali, Makassar. Kini kantor Yayasan Cabang Jakarta berlokasi di Jl. Kihajar Dewantoro No. 11, Kel. Kampung Sawah Kec. Ciputat – Tangerang Selatan. Kantor dibangun pada tanggal 5 Desember 2020, oleh Ir Anny Gunawan dan Ir. Adrianus Haryanto dari PT Setiabudi Perkasa), selesai tanggal 30 Desember 2021. Pada tanggal 22-02-2022, pesta tahta St. Petrus Rasul gedung ini diberkati oleh Rm. Aloysius Yus Noron Pr dan Rm. Vinsensius Darmin Mbula OFM dan diresmikan oleh Sr Vinsensia Siunta sebagai Provinsial Kongregasi SJMJ Jakarta. Pada tanggal 19 Maret 2022, Kantor Yayasan Cabang Jakarta menempati gedung baru yang bernuansa biru muda, warna Bunda Maria Bintang Kejora.
Saat ini Yayasan Joseph Yeemye Cabang Jakarta memiliki 10 unit sekolah yang berada di 4 kampus:
Kampus Ignatius Menteng : TK, SD St Ignatius Menteng
Kampus Alaydrus: SMK Rex Mundi Jakarta
Kampus Cengkareng: TK, SD, SMP dan SMA Bintang Kejora Cengkareng
Kampus Ciputat: TK, SD dan SMP Bintang Kejora Ciputat .
Sejak 1994, Yayasan Joseph membawahi perwakilan di setiap wilayah karya yang di pimpin oleh kepala perwakilan Jakarta, Makassar dan Manado.
Perwakilan Jakarta : Kepala perwakilan pertama yaitu Sr. Laeta Suparilah tahun 1944 - 1997 dengan alamat Jl. Malang, No. 23 Menteng, Jakarta Pusat. Kepala perwakilan terakhir yaitu Sr. Anna Endang Lestari tahun 2019 - 2020, dengan alamat Jl. Taman Cengkareng Indah No. 129, Cengkareng, Jakarta Barat.
Setiap kantor perwakilan terdiri atas kepala, sekretaris dan bendahara yang bertindak untuk atas nama pengurus Yayasan Joseph dalam pengelolaan yayasan.
Rapat dewan pimpinan Kongregasi, dewan pimpinan Provinsi Makassar, Manado dan Jakarta bersama ekonom provinsi, Organ Yayasan Joseph Yeemye, para konsultan di Denpasar, tanggal 2 sampai dengan 5 Desember 2019 menghasilkan penegasan - penegasan :
Membentuk cabang-cabang yayasan
Mempersiapkan pendirian yayasan baru di provinsi masing-masing (per 1 Januari 2020).
Setelah berproses maka diputuskan pendirian dua cabang yayasan : Cabang Jakarta dan cabang Manado. Pada tanggal 5 Januari 2021, pendirian cabang disahkan oleh pemimpin Kongregasi SJMJ, Sr. Theresia Supriyati.
Ketua yayasan Joseph Yeemye Cabang Jakarta Sr. Maria Marie Poli menangani sepuluh unit sekolah dengan alamat kantor Jl. Ki Hajar Dewantara, No. 11 Ciputat, Tangerang Selatan.
SMA BIntang Kejora Cengkareng
Alamat : Jl. Cengkareng Indah no 129 Kelurahan Kapuk, kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat berdiri tahun 1985. Awalnya gedung sekolah berupa bangunan sederhana yang panjang (los), kemudian dibagi menjadi tiga ruang dengan menggunakan papan yang bisa di lepas.
Selanjutnya di bangun lagi gedung utama dalam dua tahap dengan tiga lantai yang terdiri dari delapan ruang untuk lantai 1 dan 2 sedangkan lantai 3 untuk laboratorium dan perpustakaan. Seiring dengan perkembangan zaman dan kebutuhan dibangun juga gedung-gedung lain dan fasilitas olahraga, area parkir, kantin dan lain-lain.
Sekarang gedung atau bangunan itu cukup lengkap dan menjadi sebuah persekolahan yang terdiri atas TK, SD, SMP dan SMA Bintang Kejora.
Tahun-tahun pertama adalah perjuangan bagi SMA Bintang Kejora. Jumlah siswa masih relatif sedikit. Namun setelah lima tahun, jumlah siswa semakin meningkat bahkan perlu membatasi jumlah siswa untuk kapasitas ruang kelas ukuran standart. Rata-rata perkelas terdiri dari 30 - 40 siswa. Para siswa pun tidak hanya berasal dari wilayah sekitar sekolah tetapi juga dari tempat-tempat yang cukup jauh dari lokasi sekolah, seperti Tangerang, Jakarta Utara dan kecamatan-kecamatan lain. Jumlah siswa menurun ketika makin banyak berdiri SMA/SMK swasta di wilayah Cengkareng dan sekitarnya.